Pada-Mu Ku Pasrah
aku tidak akan berkecil hati, apatah lagi melahirkan amarah
bagai sang vagabond luka ketika seruling tua yang berada
di tanganku ini ingin saja segera kau patahkan.
kata-katamu tidak sama sekali menerjang takdirku
kuingin kau menghidu bau warna dedaunan;
hijau berganti kuning. sebenarnya bagaimana?
di antara peralihan warna itu (hijau ke kuning, kata
para cengkerik) – warna apa yang terbit?
Moga kau bisa menebak jawapannya.
satu saja yang masih belum terampas dari tangan nasibku.
sebiji guli nasib berkilat – kilau kala parak siang;
disetubuhi sepi yang jantan
maka Engkaulah sebenarnya penonton setia itu – tidak
pernah mengerutkan kening meski seringkali aku
menunda hajatku untuk menginsafi segala kekhilafanku.
Aidilx
10.59 pm
Allamanda, Sarawak.






8 Comments to “Pada-Mu Ku Pasrah”