Facebook: Pro Dan Kontradiksi
Pengharaman Facebook
Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo Nabil Haroen mengatakan pembahasan facebook dalam forum ini memiliki alasan yang kuat. Interaksi dunia maya ini dinilai menjadi salah satu pemicu hubungan negatif dengan lawan jenis. Sebab semua materi percakapan tersebut nyaris tak terkontrol dan berlangsung bebas. “Beberapa anak muda menggunakannya untuk mojok dan berbicara maksiat,” kata Nabil.
Sumber: tempointeraktif.com
Penarikbalikkan Pengharaman Facebook
Diungkapkan oleh Amidhan, ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejauh ini MUI belum membahas tentang pelarangan penggunaan Facebook.
Dalam memberikan status haram untuk Facebook, FMP3 mengklaim menggunakan sejumlah dasar yakni Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya’ Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulamak besar.
“Kami menghargai pendapat ulama itu, tapi menurut saya yang diharamkan itu kontennya yang bermuatan gosip, dan mengumbar keburukan privasi orang lain bahkan lebih parah lagi adanya gambar porno,” tandas Amidhan saat dihubungi detikINET, Senin (25/5/2009).
Menurut Amidhan, ulama-ulama dari Jawa Timur tersebut tidak termasuk dalam wadah MUI pusat. Amidhan menambahkan, haramnya konten dalam Facebook berbeda dengan haramnya babi. “Kalau babi kan zatnya haram, kalau Facebook mau dipegang atau dimakan sah-sah saja.”
Sumber: detikInet
Sumbangan Facebook

Lupakan sejenak perihal pengharaman tersebut. Mari kita selusuri bagaimana Facebook mampu mempertemukan kembali dua insan yang setelah lama terpisah.
27 tahun yang lalu, Avril Grube telah kehilangan anaknya yang berumur 3 tahun apabila mantan suaminya membawa anak mereka dengan alasan untuk berhibur. Malangnya, anak tersebut telah dilarikan oleh mantan suaminya ke kampung halamannya tanpa izin dari Avril. Sejak itu, tiada perkabaran daripada anaknya.
Di atas kehendak Allah S.W.T jua, secara kebetulan adik Avril tadi telah menemui profil Facebook Gavin, si anak yang telah hilang hampir 3 dekat yang lalu. Ternyata melalui Facebook telah membuahkan hasil apabila si ibu tadi telah berjaya menghubungi anaknya tersebut. Dan, mereka telah bertemu jua akhirnya walaupun terpaksa berbicara di dalam 2 bahasa yang berbeza.
Harapnya, melalui kisah ini kita dapat menilai bahawa Facebook bukanlah sesuatu yang tidak bermanfaat kepada kita. Kisah di atas cuma secebis sahaja. Mungkin sudah banyak kisah yang melibatkan Facebook di seluruh dunia. Tidak dinafikan ada juga yang menyatakan bahawa Facebook sebagai penyumbang kepada kemerosotan ekonomi sekarang dan digunakan sebagai method pencurian duit di Internet.
Secara peribadi, Aidilx melihat Facebook bukanlah satu bentuk jaringan sosial yang boleh mendatangkan kemudaratan kepada penggunanya. Apatah lagi, Aidilx merasakan rata-rata pengguna Facebook diklasifikasikan sebagai golongan intelek (golongan berpendidikan). Justeru, bukan semua yang akan menggunakan Facebook untuk mencari kepentingan peribadi. Jika dibandingkan dengan jaringan sosial yang lain seperti Friendster dan MySpace, Aidilx lebih memilih menggunakan Facebook kerana ianya mementingkan privasi dan mesra pengguna.
Pokok pangkalnya, pro dan kontradiksi (baik & buruk) berkaitan Facebook ini terletak kepada diri kita sendiri yakni nawaitu (niat). ;)
Bagaimana pula pendapat kamu?






19 Comments to “Facebook: Pro Dan Kontradiksi”